Jumat, 02 September 2011

Suara Nada Atas, Siapa Takut?

nada, mic, memegang, menyanyi

Ada dua mitos di kalangan masyarakat awam mengenai orang yang dapat menyanyi atau qiroah (melagukan Al-Qur'an) dengan suara tinggi : Anti gorengan dan anti polusi. Di sini saya berani menjawab, hal ini tidaklah (selamanya) benar! Mengapa? Karena yang utama bukan masalah gorengan dan polusi, tapi masalah teknik dan penjagaan suara. Di sini saya akan memberikan tips bagi Anda yang berpotensi sebagai penyanyi agar dapat menyanyi dengan maksimal, berdasarkan pengalaman saya menjuarai harapan lomba MTQ SMP dan mengikuti Paduan Suara Mahasiswa UNY.
  1. Pernapasan Perut, bukan Pernapasan Dada
  2. Dengan pernapasan perut, Anda akan mendapat udara yang lebih sehingga saat Anda dapat lebih maksimal dalam bernyanyi. Teknik yang dilakukan adalah mengambil pernapasan melalui hidung dan mulut (keduanya digunakan secara bersamaan) dengan fokus memasukkan udara ke perut (hal ini harus di-mindsetkan pada otak Anda. Wajib!) sampai detik tertentu. Setelah itu tahan beberapa detik dan keluarkan dengan ssstttt (harus soft, tidak boleh terputus, harus konstan! Jika terputus, ulang dari awal!) Untuk pemula, Anda cukup melakukan ini selama 30 detik (10 detik ambil napas, 10 detik tahan napas, 10 detik mengeluarkan napas). Untuk para qori', Anda dapat mempelajari tarikan nafas Qori' International, Pak Muammar ZA, yang dimana beliau dapat ambil bernapas panjang (Saya pribadi masih iri dengan Pak Muammar ~_~)

  3. Gunakan Head-Voice (suara kepala)
  4. Bagi Anda yang awam menyanyi dan Anda pernah nekat nyanyi suara tinggi sampai serak (suara rusak), berarti Anda belum menguasai yang satu ini. Jika Anda mengalami hal ini berarti Anda masih menggunakan Lane-Voice (suara jalur tenggorokan) yang dimana fokus pengeluaran suara Anda adalah ke tenggorokan. Hal ini salah besar! Ibarat analogi tampungan pompa air, Anda memusatkan tampungan air tersebut ke "jalurnya", bukan ke tempat penampungannya. Head-Voice adalah teknik "melempar" suara ke kepala sampai kepala Anda benar-benar "terasa bergetar". Untuk teknik yang satu ini memang saya akui butuh proses yang tidak cepat, artinya Anda harus berlatih secara teratur sampai benar-benar menguasainya. Teknik awal yang harus Anda kuasai terlebih dahulu adalah bersuara dengan fokus ke mulut. Kuasai gaya bicara ala "Santa Claus" dengan suara khasnya (ho ho ho). Setelah itu Anda kuasai, barulah Anda mempelajari gaya nyanyi ala Josh Groban (untuk yang laki-laki. Yang perempuan "pelajari suara" Celine Dion) yang dimana beliau dapat menyanyi dengan beresonansi di kepala.

  5. Gunakan Belt-Voice atau Chest-Voice
  6. Chest-Voice adalah adalah suara dada klasik. Jika Anda "sing from your belt" atau "belt out a song" Anda dapat merasakan suara yang berasal di daerah dada Anda. Suara ini terdengar lebih kaya, dalam, berani, dan berani, dan terbaik dalam rentang yang lebih singkat. Keunggulannya adalah suara kita tetep tebal (tidak tipis dan tidak melengking) sehingga antara nada rendah dan tinggi terdengar stabil dan rapih ketebalan suaranya. Keunggulan yang lain adalah suara ini dapat meberikan efek dramatic. Sangat pas untuk dinyanyikan pas klimaks lagu, seperti bagian Chorus akhir. Tidak boleh ada ragu-ragu di dalamnya. Contoh dalam Josh Groban - Remember Me pada bagian terakhir, saat menyanyikan nada dari "Re" ke "Member...". Di sini efek dramaticnya sangat terasa.

  7. Gunakan falsetto, bila suara tinggi Anda sudah benar-benar maksimal.
  8. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang memiliki karakter suaranya masing-masing. Ada Bass, Alto, Tenor, dan Sopran. Setiap jenis suara ini memang memiliki range nada sendiri. Maka dari itu, untuk nada-nada tinggi yang tidak dapat dijangkau, Anda perlu menggunakan teknik falsetto. Falsetto merupakan jenis fonasi vokal yang memungkinkan penyanyi untuk menyanyikan nada luar jangkauan vokal suara normal. Ada istilah lain, Falsetto adalah teknik bernyanyi dengan volume pelan (piano). Salah satu teknik falsetto yang bagus dapat Anda dengarkan pada lagu "Bee Gees - Staying Alive". Anda dapat perhatikan bedanya suara falsetto dengan suara reguler.
Semoga hal-hal yang saya sampaikan di atas dapat bermanfaat bagi Anda. Jika ada salah istilah, mohon dikoreksi karena saya orang yang dapat dikatakan tidak belajar secara teori tetapi secara praktek.

Referensi: