Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Juli 2010

Pentingnya Pendidikan Profetik dalam Pembangunan Moral

profetik, pendidikan, moral

Wacana pendidikan profetik sebenarnya telah lama berkembang baik di kalangan akademisi ataupun non akademisi. Wacana ini muncul dilatarbelakangi oleh keprihatinan berbagai pihak melihat kondisi pendidikan Indonesia yang semakin lama tidak memiliki identitasnya lagi akibat globalisasi.

Kita sudah sering mendengar banyak remaja yang melakukan per­gaulan bebas yang tidak jarang berdampak hamil di luar nikah. Selain itu kekerasan remaja antarseko­lah yang sepertinya tidak ada habisnya. Hal ini disebabkan karena merosot­nya moralitas pada para remaja itu sendiri. Pendidikan yang diterapkan dalam mayoritas insti­tusi pendidikan di Indonesia ini sepertinya hanya mengejar pada standar kompetensi yang tercatat dalam nilai kognitif tetapi nilai afektif jarang seka­li dinilai bahkan sama sekali tidak dinilai. Hal ini sudah melanggar dari nilai pendidikan itu sendiri yang seharusnya dapat membentuk hakikat manusia sesungguhnya sebagai makhluk Tuhan dengan fitrah, mahkluk individu yang khas, dan sebagai makhluk sosial yang hidup dalam kemajemukan realita sosial. Untuk itu, pema­ha­man yang utuh tentang karakter manusia wajib dilakukan sebelum proses pendidikan dilaksanakan, salah satunya dengan pendidikan profetik yang dapat merekontruksi pendidikan Indonesia yang saat ini sedang kehilangan arah dan tidak memiliki jati diri bangsa Indonesia yang sesungguhnya.

Sebagai agen perubahan sosial, pendidikan profetik diharapkan mampu berperan dalam pembentukan moral bangsa saat ini dan mampu membawa perubahan yang berarti bagi perbaikan moral bangsa dalam menghadapi globalisasi yang terjadi saat ini karena pendidikan profetik tidak sekedar mengikuti alur zaman tetapi harus mampu menciptakan gagasan bagaimana pendidikan profetik itu dapat berjalan dalam berbagai alur zaman. Pendidikan profetik yang berdasarkan suri tauladan Nabi Muhammad SAW tidak hanya sekedar proses penanaman nilai-nilai moral untuk membentengi diri dari pengaruh negatif globalisasi tetapi yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai moral yang telah ditanamkan pendidikan profetik tersebut mampu berperan sebagai kekuatan pembebas dari berbagai permasalahan moral yang terjadi di sekitar kita.

Dalam sisi pendidikan, tiga pilar utama dalam konsep profetik yaitu transendensi (keimanan kepada Tu­han), humanisasi (memanusiakan manusia), dan liberasi (pembebasan dari kesewenang-wenangan) men­ja­di paradigma dalam mengembangkan sistem pendidikan di Indonesia serta mem­berikan paradig­ma agar mampu melahirkan kebijakan yang berpihak pada seluruh lapisan masyarakat, menum­buh­kan pendidikan yang berjati diri Indonesia, dan sesuai dengan konstektual kehidupan masya­ra­kat.

Maka pembelajaran pendidikan profetik tidak hanya ditekankan untuk mengejar standar kom­pe­tensi di dalam kurikulum saja tetapi harus ditekankan untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan berdiskusi apa yang sedang dibahas dalam mata pelajaran tersebut dengan realitas sosial yang sedang terjadi sehingga siswa memiliki wawasan akan kondisi masyarakat tempat ia berada selama ini yang akhirnya memunculkan kesadaran pada setiap peserta didik mengenai tindakan yang harus dia lakukan dalam realitas sosial yang ada tersebut.

Artikel ini adalah tulisan saya di REMA POST Edisi 3/Tahun IV/Juni 2010 dengan beberapa pengubahan